Perempuan selalu benar? Tidak!
Kaum perempuan,sampai terperangkap dalam stigma-stigma negatif yang dapat merendahkan martabat kita sebagai manusia. Bagaimana sejarahnya dulu, sampai kita dianggap kurang memakai otak. Dianggap lebih emosional ketimbang rasional. Kita dituduh sebagai mahluk yang lebih menggunakan insting daripada akal. Memangnya, kita ini tergolong dari jenis setengah mamalia apa? Padahal, kalau dipikir-pikir, justru kaum lelaki-lah yang seperti itu. Justru, yang berjenis kelamin pria-lah manusia yang paling jarang menggunakan otaknya. Tidak percaya?, mari kita tela’ah! Kita ambil masalah yang paling fundamental bagi kehidupan umat manusia, yaitu: tentang Cinta!.
Bicara cinta, tentu tak bisa dilepaskan dari bicara tentang perkawinan. Sampai sekarang, belum pernah saya dengar ada istilah wanita menikahi pria. Selalu wanita yang dinikahi pria. Penggunakan kata “me” dan “di” dalam kawin-mawin, jelas-jelas menggambarkan, bahwa selama ini telah terjadi adanya ketidak-setaraan didalam percintaan antara pria dan wanita. Seolah-olah pria-lah pihak yang selalu menyerang, sedangkan wanita adalah pihak yang diserang. Kebiasaan ini telah membuahkan makna, bahwa perkawinan bagi seorang pria, merupakan manifestasi dari insting agresifitas alamiahnya. Sedangkan perempuan, lebih memandang pernikahan sebagai puncak karir kodrat ilahiyahnya. Suatu kenyataan hidup yang harus dijalani. Sebuah kepasrahan yang realistis.
Saya tidak tahu, apakah naturenya memang demikian. Oleh karena itu, saya anggap sah-sah saja apabila saya katakan, bahwa seorang pria hanya mau menikah dengan wanita-wanita yang disukainya. Sebaliknya, seorang wanita hanya bersedia menikah dengan seorang lelaki yang dia anggap mencintainya. Artinya, dalam memutuskan pernikahan, pria lebih mendasarkan pertimbangannya pada emosi, pada egonya, mengabaikan faktor rasio. Sedangkan bagi wanita, walaupun masalah cinta adalah masalah hati, tetap saja mereka tidak pernah menafikan unsur akal. Biar cinta setengah mati, tapi untuk bersedia menikah, wanita selalu realistis dan rasional. Selalu menggunakan otak. Menimbang-nimbang dulu, bagaimana masa depan keluarga yang akan kita bangun. Menganalisa kecintaan sang kekasih, apakah nantinya bisa tahan lama atau tidak. Juga tak lupa untuk menelisik prospek ke”pribadi”an si calon suami: rumah pribadinya, mobil pribadinya dan deposito pribadinya. Rasional!, rasional sekali.
Cinta, selalu melahirkansebuah efek pasti. Bahkan lebih pasti dari ilmu pasti. Efek itu adalah: apalagi kalau bukan tentang (sorry) aktivitas perkelaminan. Untuk masalah yang satu ini, walaupun kita selalu mampu, belum tentu kita selalu mau. Kalau kita sudah punya pasangan, tentu kita akan berpikir sejuta kali untuk mau tertarik kepada pria lain, se-Brad Pitt-pun ketampanan mereka. . Bisa saja hati kita kagum kepada seorang pria, tapi otak kita selalu mengajak kaki kita lari jika tubuh kita didekati. Ini adalah bukti, bahwa akal wanita selalu pegang kendali, walaupun hatinya berkata lain.
Tapi lelaki?. Dunia sudah tahu, kepala mereka isinya kotoran semua jika menyangkut masalah kelamin. Mereka selalu mau walaupun belum tentu mampu. Kalau sudah berurusan dengan masalah yang satu ini, biasanya laki-lakilupa akan kesadaran potensi diri. Se-profesor apapun intelektualnya, mereka terbiasa main seruduk, melupakan rumus-rumus sebab akibat. Tidak semua lelaki memang, tapi konon katanya rata-rata mereka begitu. Kurang bukti apalagi kita?. Benarkah, bahwa pria itu lebih rasional ketimbang perempuan?.Saya pikir, tak perlu seorang ahli psikologi untuk menjawab pertanyaan ini. Semua orang mahfum, apabila seorang lelaki sudah dikuasai nafsu, bukan akalnya yang mengajak kakinya lari buat menghindar. Justru otaknya sendiri yang akan lari: dari kepala menuju dengkul!.
Komentar
Posting Komentar