Jambu Tua
( Seorang gadis sedang duduk di kursi tua sambil membaca sang usang,Pada laman berita sebuah koran lokal, terpampang gambar seorang laki-laki paruh baya yang mati gantung diri. Berdasarkan isi informasi tersebut, belum tertera motif dari tindakan bunuh diri tersebut)**
“Marten, tadi ibu telefon. Ia ingin bicara denganmu. Ia ingin agar belis segera diurus.” Kata Lena(ia mendapatkan Marten suaminya baru saja pulang dari kebun)
Malang benar nasib lelaki itu, belum juga ia duduk. Belum pula ditawarkan kopi. Tidak juga disapa selamat sore. Tiba-tiba sudah ditampar dengan kabar susah. Ia pun masuk dan mengambil tempat di dekat jendela. Di sana tempat kesukaannya. Di sana pula, ia merenungi nasibnya. Meratapinya dengan isak tangis yang tanpa bunyi.
Ia harus akui, ia belum melunasi belis istrinya Lena. Dulu ia mengambil perempuan itu saat pesta nikah di kampung sebelah. Ia terpanah oleh senyuman Lena yang manis, lentik alis yang indah, dan kemudian ia bertekad untuk membawah Lena kabur ke rumahnya. Gadis itu juga tidak kuasa menolak ajakan Marten yang tampan. Semenjak saat itu, mereka berdua hanya bisa direstui dengan perkawinan adat, itu pun sebagian belis belum diberikan sepenuhnya ke keluarga Lena. Setelah acara perkawinan mereka, ayah Marten pergi mengikuti ibunya yang lebih dulu ke liang lahat. Kini di rumah itu, hanya ada dirinya dan Lena. Lima tahun usia perkawinan mereka, tapi Lena tidak juga kunjung hamil. Mulut-mulut serangga di sekeliling rumah mulai menuduh kalau Marten itu mandul. Ia tak kuat di ranjang. Ada juga yang bilang, kalau batangnya tidak bisa berdiri. Baru-baru juga terdengar, bahwa Lena belum pernah merasakan kepuasan jika berhubungan dengan Marten. Semuanya menertawai nasib Marten.
Pikirannya kini pening, banyak hal yang ia pikirkan, mulai dari belis yang belum selesai diurus, acara kumpul keluarga, hingga kunjungan bapa Lurah yang datang menagih uang pajak ke rumahnya tadi siang. Belum lagi masalah mokenya yang belum juga terjual. Ia ingin menghabisi dirinya sendiri, tekanan yang diberikan padanya terlalu berat. Ia tak mampu memikul dan menyelesaikan dalam waktu dekat. Tidurnya malam itu tidak nyenyak, ia ke dapur dan mulai memasak mokenya. Pikirnya, dengan barang itu, ia bisa memiliki uang. Paling tidak bisa untuk memenuhi makan minum ia dan istrinya. Malam itu, ia berhasil mendapatkan lima belas botol moke. Bergelora jiwanya oleh bahagia, sebab dengan demikian. Uang akan ada dikantongnya esok pagi.
Malam terus larut, pagi sudah datang menjemput, matahari berdiri dibalik gunung kecil di belakang rumah Marten. Kemudian membakar kulitnya dan berhasil menyadarkannya dari tidur. Pagi itu, ia tak sempat sarapan, karena matahari telah naik. Itu berarti, ia terlambat bangun pagi. Ternaknya di kebun belum juga mendapatkan jatah makan. Belum lagi, enau yang belum habis ia iris, untuk diambil airnya. Begitulah kerjanya tiap pagi. Tetapi, ia tidak merasa lapar. Perutnya sudah terisi dengan banyaknya masalah dan beratnya beban. Langkah kakinya kini membawah dia ke depan kandang kambing dan sapinya. Tak berani ia menjual kambing atau sapi itu guna mengurus habis belisnya, sebab jika itu dijual. Maka ia akan menjadi semakin melarat, dua binatang itu akan dijual, jika semua usahanya berakhir dengan kegagalan. Tetapi sepanjang masalah yang ia hadapi selama ini, belum ada masalah yang ia tidak selesaikan dengan kepala dingin.
Hari itu mungkin hari keberuntungannya, bambu kecil tempat penampungan air enau yang ia iris penuh terisi. Meskipun berat, ia membawa semua barang tersebut ke rumahnya. Barang ini tidaklah lebih berat dari pada beban hidupnya. Barang tersebut lebih ringan dari masalah yang ia pukul bertahun-tahun ini. Ia bersemangat agar semuanya berakhir, semuanya selesai dan ia bisa hidup dengan tenang. Wajahnya dipenuhi dengan panorama sukacita, senyumnya tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang ia rasakan.
Dari kejauhan ia melihat rumahnya, terkagum-kagum matanya melihat rumah yang begitu sederhana, tetapi begitu banyak kenangan indah yang terjadi di sana. Langkah kakinya kembali di ayun, pintu rumahnya tertutup. Tak ditemukan siapa pun di sekitar rumahnya. Tidak istrinya, tidak pula kucing kesayangannya. Rumah itu seperti tak berpenghuni. Ia masuk lewat pintu belakang yang agak lebih mudah di buka. Di sana juga tak ditemukan istrinya. Ia meletakkan semua air moke yang ia bawah kebun ke tanah. Kemudian, ia masuk kamar untuk mengambil sabun guna membersihkan badannya dari keringat. Tak sengaja, ia malah mendapatkan istrinya telentang telanjang bersama bapa Lurah di atas ranjang. Hatinya hancur, matanya tak tahan menangis, jantungnya berhenti berdetak. Ia mati di pinggir tempat tidur itu. Kini bebannya benar-benar berakhir.
***
Bapa Lurah dan istri dari laki-laki paruh baya tersebut sudah di tahan oleh polisi. Karena dalam pengakuan mereka, laki-laki itu telah mati satu jam sebelum mereka datang ke tempat kejadian.
Komentar
Posting Komentar