Perempuan bukan hanya ibu rumah tangga!

 Wanita selalu identik dengan keindahan, kelembutan, dan kelemahan. Sifat-

sifat tersebut terlihat dari bentuk fisik, gerak, dan suara, maka tak jarang jika 

pandangan terdahulu menganggap kehadiran wanita sebagai sosok yang lemah dan 

memalukan. Selain itu masyarakat terdahulu juga mengganggap kaum wanita tidak 

boleh melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, pekerjaan seorang wanita 

hanya berkisar antara dapur, sumur, dan kasur. 

Pada saat sekarang ini, telah terjadi pergeseran makna peran seorang wanita 

yang dahulunya hanya mengurusi urusan rumah tangga, namun kini wanita mampu 

meangaktualisasikan dirinya melalui pendidikan maupun pekerjaan tanpa 

mengabaikan kodratnya sebagai wanita. Keadaan seperti ini berlanjut sampai 

datangnya Islam yang mengangkat derajat kaum wanita, memberikan hak-haknya, 

serta membuat wanita menikmati kemanusiaan dan kehormatan ditengah-tengah 

masyarakat. Islam juga memberikan kebebasan kepada wanita dalam hal jual beli dan 

menuntut ilmu.Keterlibatan wanita dalam dunia kerja menimbulkan pro dan kontra di 

masyarakat. Hal ini disebabkan oleh stereotype yang dilabelkan oleh sebagian 

masyarakat mengenai peran wanita, seperti hanya untuk mengelola segala hal yang 

berkaitan dengan urusan rumah tangga. Masyarakat tradisional dan nilai-nilai 

memandang bahwa jika wanita memasuki peran publik, tentunya mereka tidak dapat 

melepaskan sedikitpun peran domestik sebagai ibu ataupun seorang istri (Nurhayati, 

2012). Pendapat lain juga mengatakan bahwa sulit bagi wanita untuk menjalankan 

peran multi fungsi dengan sukses sebagai ibu rumah tangga, istri, anggota 

masyarakat, juga sebagai wanita karir dalam waktu yang bersamaan (Putri & Respati, 

2009).

Di era globaliasi seperti sekar,Di era globaliasi seperti sekarang ini, peran wanita semakin lama semakin 

mengalami banyak perubahan. Kini, wanita tidak lagi puas dengan pekerjaan di 

rumah tangganya, sehingga banyak sekali wanita yang memilih untuk terjun ke dunia 

karir. Hal ini tentunya mematahkan pandangan sebagian masyarakat yang 

menganggap kodrat wanita hanya dapat bekerja mengurus rumah tangga. 

Persoalannya adalah ketika wanita memilih untuk menjalani sebuah pekerjaan (karir), 

terutama bagi wanita yang sudah menikah, maka ia akan menjalani dua peran, yaitu 

sebagai ibu dan seorang pekerja yang tentunya akan menimbulkan persoalan yang kompleks.Fenomena yang terjadi pada sebagian wanita karir saat ini adalah sebagai 

wanita karir terkadang menolak maupun mengabaikan kesempatan untuk berkembang

ataupun dipromosikan disebabkan oleh faktor sosial budaya. Pada sebagian wanita 

yang bekerja, menganggap bahwa pemikiran-pemikiran masyarakat akan 

memberikan suatu kecemasan terhadap dirinya, sehingga bagi wanita yang 

mendapatkan kesempatan untuk menduduki posisi lebih dalam karir terkadang

memilih untuk tidak mengambil posisi tersebut (Dowling, 1992). Contoh lain yang 

sering terjadi adalah jika wanita dalam pekerjaannya mendapat promosi jabatan atau 

ditugaskan di luar kota, wanita cenderung akan menolaknya karena harus berperan 

ganda sebagai pekerja dan mengurus rumah tangga, jika menerima promosi jabatan 

tersebut maka kemungkinan akan muncul masalah dalam rumah tangganya.

Pada saat sekarang ini, telah terjadi pergeseran makna peran seorang wanita yang dahulunya hanya mengurusi urusan rumah tangga, namun kini wanita mampu mengangkat aktualisasikan dirinya melalui pendidikan maupun pekerjaan tanpa mengabaikan kodratnya sebagai wanita. Keadaan seperti ini berlanjut sampai datangnya agama yang mengangkat derajat kaum wanita, memberikan hak-haknya,

serta membuat wanita menikmati kemanusiaan dan kehormatan ditengah-tengah

masyarakat. Agama juga memberikan kebebasan kepada wanita dalam hal jual beli dan

menuntut ilmu.Keterlibatan wanita dalam dunia kerja menimbulkan pro dan kontra di

masyarakat. Hal ini disebabkan oleh stereotype yang dilabelkan oleh sebagian

masyarakat mengenai peran wanita, seperti hanya untuk mengelola segala hal yang

berkaitan dengan urusan rumah tangga. Masyarakat tradisional dan nilai-nilai

memandang bahwa jika wanita memasuki peran publik, tentunya mereka tidak dapat

melepaskan sedikitpun peran domestik sebagai ibu ataupun seorang istri .Pendapat lain juga mengatakan bahwa sulit bagi wanita untuk menjalankan

peran multi fungsi dengan sukses sebagai ibu rumah tangga, istri, anggota

masyarakat, juga sebagai wanita karir dalam waktu yang bersamaan.

Di era globaliasi seperti sekarang ini, peran wanita semakin lama semakin

mengalami banyak perubahan. Kini, wanita tidak lagi puas dengan pekerjaan di

rumah tangganya, sehingga banyak sekali wanita yang memilih untuk terjun ke dunia

karir. Hal ini tentunya mematahkan pandangan sebagian masyarakat yang

menganggap kodrat wanita hanya dapat bekerja mengurus rumah tangga.

Persoalannya adalah ketika wanita memilih untuk menjalani sebuah pekerjaan (karir),

terutama bagi wanita yang sudah menikah, maka ia akan menjalani dua peran, yaitu

sebagai ibu dan seorang pekerja yang tentunya akan menimbulkan persoalan yang kompleks.Fenomena yang terjadi pada sebagian wanita karir saat ini adalah sebagai

wanita karir terkadang menolak maupun mengabaikan kesempatan untuk berkembang

ataupun dipromosikan disebabkan oleh faktor sosial budaya. Pada sebagian wanita

yang bekerja, menganggap bahwa pemikiran-pemikiran masyarakat akan

memberikan suatu kecemasan terhadap dirinya, sehingga bagi wanita yang

mendapatkan kesempatan untuk menduduki posisi lebih dalam karir terkadang

memilih untuk tidak mengambil posisi tersebut.Contoh lain yang

sering terjadi adalah jika wanita dalam pekerjaannya mendapat promosi jabatan atau

ditugaskan di luar kota, wanita cenderung akan menolaknya karena harus berperan

ganda sebagai pekerja dan mengurus rumah tangga, jika menerima promosi jabatan

tersebut maka kemungkinan akan muncul masalah dalam rumah tangganya.

Perempuan bukan hanya sebagai ibu rumah tangga!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jambu Tua

Cantik kata saya