Can-tai-k

 CANT(A)IK


Seorang perempuan duduk di sebuah kursi di tengah panggung. Di tangannya ada sebuah cermin.

Ahhhh… (sambil menangis, duduk di tengah panggung,dia berteriak begitu hebat. Wajahnya diusap dengan keras oleh kedua tangannya. Sesekali dia melihat wajahnya di cermin dan setiap kali dia melakukan hal itu, tangisannya semakin keras. Dia tampak kecewa dengan Tuhan. Seakan-akan dia mau memenggal kepalanya)

(Sambil melihat wajahnya di cermin) Wajah siapa ini? Hahaha… hancur sekali. Mama dan bapak parah, parah sekali. Masa buat anak saja tidak becus. Anak perempuan itu tidak hanya harus berambut panjang, tapi juga harus cantik. Lihat wajah saya, hancur sekali (kembali menangis).

Perlahan-lahan tangisannya mulai berhenti. Dia coba melihat baik-baik wajahnya di cermin.

Garis muka bengkok sana-sini, hidung pesek, jerawat berlimpah ruah, hitam, dahi lebar, hahaha… lengkaplah sudah penderitaan saya. Rambut juga kusut dan keriting, bergelombang macam ombak di samudra luas, samudra luas yang sangat berani dan hanya orang-orang gila yang mau mengarunginya. Pantas saja laki-laki tidak ada yang mau sama saya. Hahaha… hanya laki-laki yang berani, hanya laki-laki yang gila. Ahhh tapi, tidakkah itu bagus? Dengan begitu saya akan mendapatkan laki-laki yang sungguh-sungguh, laki-laki yang gagah berani.

Dulu, waktu saya menyadari kalau wajah saya tidak begitu cantik, garis wajah saya bengkok sana-sini, saya memutuskan untuk mempercantik hati dan budi saya. Saya rajin bangun pagi, tekun mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh mama saya, jadi murid paling aktif belajar di sekolah. Semua hal baik saya lakukan. Kalau mama menyuruh saya masak nasi, saya akan masak dengan sayur dan ikan sekaligus. Kalau bapa menyuruh saya membuatkannya kopi, saya akan menghidangkannya dengan ubi juga. Di sekolah, saat ibu guru menyuruh saya untuk mengerjakan lima nomor soal, saya akan mengerjakan sepuluh. Usaha keras saya itu membentuk kepribadian saya, tapi bukan wajah saya. Orang bilang, hati yang cantik dan baik akan memancarkan pesonanya ke luar, tapi wajah saya tetap begini-begini saja. Tetap begini, mungkin sampai selama-lamanya.

Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuat wajah saya cantik, tapi semua usaha saya itu sia-sia. Semua jenis skincare saya coba, krim-krim wajah, sabun pencuci muka, shampoo terbaik, tetapi semuanya tidak mempan. Saya iri melihat kecantikkan teman-teman saya. Wajah mereka yang secerah bunga matahari, rambut mereka yang serupa renda-renda dari emas, gigi mereka yang putih bagaikan susu, atau mata mereka yang begitu teduh. Semuanya indah di wajah mereka, tapi rusak di wajah saya..

Saya tidak pernah didekati laki-laki. Didekati saja tidak, apalagi dipacari. Hahaha… Saya takut kalau perasaan saya terhadap laki-laki sudah mati. Manis sekali melihat teman-teman saya berpacaran; berpegangan tangan dalam terik dan hujan, berlarian ke sana kemari sambil tertawa. Sementara saya, setiap saat hanya berkutat dengan kesengsaraan ini. Saya mungkin ditakdirkan untuk tidak mengenal cinta. Tapi, kesialan saya ternyata bukan hanya soal itu. Di tengah masyarakat, perlakuan yang diskriminatif begitu saya rasakan. Setiap kali saya berjalan dengan orang yang cantik, pasti yang ditegur hanya yang cantik itu. Saya seolah-olah dayangnya saja. Kalau orang besar datang ke kampung kami, yang bertugas untuk mengalungi dia dengan bunga atau selempang pasti orang cantik. Memangnya pemimpin itu hanya milik mereka yang cantik? Terus, kalau mau lamar kerja, kenapa harus ada kriteria kecantikannya? Kalau begitu kami yang jelek ini hanya boleh jadi pemulung? Pengemis? Para pemuka agama juga, kenapa malaikat selalu digambarkan dengan yang cantik, putih dan mempesona, sementara setan-setan selalu digambarkan dengan yang hitam, jelek dan buruk. Kami juga manusia. Kami juga ciptaan Tuhan.

Dia kembali melihat wajahnya di cermin, lalu menangis.

Hahaha… tapi kalau dipikir-pikir, jadi jelek juga ada untungnya. Setidaknya kita bisa tahu mana yang tulus dan jujur di dunia ini. Kita bisa tahu mana orang yang benar-benar mencintai kita. Orang jelek akan mendapatkan hal paling baik yang disediakan dunia. Termasuk laki-laki paling baik. Teman-teman saya yang cantik banyak yang hanya dimanfaatkan. Setelah laki-laki sial itu menikmati seluruh tubuh mereka, mereka akan pergi. Bangsat. Kasus cerai juga berserak di mana-mana. Hahaha….

Sekarang menarilah diriku, tersenyumlah bibirku…..

Dunia menyediakan yang terbaik untukmu. Kecantikan wajah itu fana, kecantikkan hati yang abadi.

Menarilah diriku, tersenyumlah bibirku…..

Lebih baik jelek wajah daripada jelek hati. Yang cantik dipandang oleh bola mata, yang jelek dipandang oleh mata hati.

Menarilah diriku, tersenyumlah bibirku…

Coba tutup mata kalian semua. Rasakan ketenangan dan kedamaian itu. Uhhh damai sekali. Tapi, dunia ini begitu gelap kan. Tidak ada wajah yang cantik di sana kan? Semua kita sama kan? Biar mata hati yang menuntunmu.

Cantik itu fana, cantik itu luka, cantik itu nestapa…

Cant(a)ik!


(Gadis itu berdiri, berjalan dan berdamai)


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jambu Tua

Cantik kata saya