Aku dan Senja yang bisu
Aku Dan Senja yang Bisu.
“Teruntukmu sih Nana, dada bidang. Sebelum perjumpaan itu aku tak pernah membayangkan bagaimana rasanya rindu yang dikekang jarak. Sesaat ketika kita saling berjanji pun tak pernah aku bayangkan bagaimana sakitnya janji di penghujung malam itu,ketika yang tersisa saat ini hannyalah ingatan yang abadi dalam setiap hitungan waktu. Jikalau aku tahu bahwa cinta itu memiliki sebab, maka biarkan aku mencintaimu tanpa alasan biar akibatnya tidak sepahit ini. Kita adalah senyuman dalam luka. Kisah itu sesekali berseliweran walau riuh reda hidup kian membias namun tak kuasa membius Ingatan menjadi tiada. Ah, paling tidak aku mulai mengerti bahwa kita adalah dua pasang bola mata yang polos dan hati putih yang pernah bertemu namun tak pernah siap untuk berpisah. Biarkan semuanya itu kita kekalkan dalam bait –bait doa kita yang membubung walau hidup selalu diwarnai senja.”
*****
Liburan bulan Juni kala itu aku sempatkan diri untuk bersantai menikmati senja di pantai, di
kampung ayahku. aku lahir dan dibesarkan di sini selama tiga belas tahun bersama orang tua dan
ketiga saudaraku, sebelum akhirnya kami berpindah ke Waelengga awal Oktober 2018. Di tempat
ini memori kembali dibuka oleh heningnya bukit-bukit, permainya lembah-lembah dan riuhnya
gelombang yang menepi. Sore hari itu cuaca di pantai sangat sejuk, tak seperti biasanya.
Situasinya tampak lengang. Tidak ada satu pengunjung pun yang datang. Padahal hari itu adalah hari
minggu. Situasi ini yang selalu aku rindukan selama tinggal di Waelengga, Di sini tak aku temukan
polusi udara, kemacetan lalulintas, kasus korupsi, fenomena banjir bahkan kasus pembunuhan. Bagiku ini adalah Yordan, tempat segala kasih sayang, harapan dan mimpi-mimpi berpelukan. Semua
penziarahanku berawal dari sini.
Suasana di pantai memang sangat sepi. Yang ada di sana hannyalah pak veri penjaga pantai
tersebut yang sedang membersihkan guguran bunga dan dedaunan yang berserakan. Aku
melangkah ke arahnya untuk bersalaman. Kemudian aku beranjak untuk berteduh di bawah sebuah
pohon tepatnya di bibir pantai sambil membawa gitar dan buku kumpulan lagu cinta. Bermain gitar
dan menyanyi adalah kesukaanku untuk mengisi waktu yang kosong. Lagu dari musisi legenda Iwan fals salah satunya. Sembari menikmati arus pantai, gitar aku letakkan begitu saja di sampingku. Pak
veri pun datang memberikan sebotol minuman mineral kepadaku. Dengan cepat aku habiskan air itu
sebagai pelepas dahaga. Sesekali aku melirik ke jam tanganku. Jam sudah menunjukkan pukul 15: 30
Wita. “Mengapa jam segini dia belum datang juga, ya?” tanyaku dalam hati.
Waktu terus berputar. Angin bertiup sepoi-sepoi basah menerbangkan imajinasiku yang liar
dan tak karuan. Deru gelombang kian meronta. Menepi menghantam deretan karang yang kaku.
Mentari berlahan menuju ke peraduannya sembari meninggalkan gumpalan-gumpalan teja. Burung
melayang-layang di atas hamparan laut nan luas. Sesekali mereka hinggap pada cabang pohon
Mangrove yang berdiri kokoh di pinggir laut itu. Pohon itu menyisakan dahan dan ranting-ranting
yang meranggas. Situasi menjadi syahdu di senja itu. Imajinasiku terus berkelana, mengembara pada
horizon yang maha luas itu. Aku pun terlelap.
*****
Senja terus menuju ke peraduannya. Dia tahu bahwa sebentar lagi malam akan tiba. Aku tak
menyadari bahwa Yudas, telah berada di sampingku lima belas menit yang lalu. Aku dikagetkan
dengan kehadirannya tatkala tersadar karena derasnya barisan gelombang yang menepi,menghantam deretan karang di depanku. Sih nana, dialah yang aku tunggu. Ekspresinya begitu tenang.
Kali ini dia datang dengan segala ketampanan bak aktor dari negara sakura. Berpakayan hitam
polos , berpostur Tinggi, dada bidang yang membuatnya sempurna di mataku. Dia seserong yang
aku jumpai di ujung September tahun 2019 ,sejak masih berada di tingkat 2 perguruan tinggi. Dalam
perjalanan waktu, aku jatuh cinta padanya. Perasaan itu dia ungkapkan satu bulan sebelum aku
berpindah Kuliah, aku menerima perasaannya itu dengan baik. Hubungan itu kami jalankan dalam
waktu yang singkat. Masih terngiang dalam memoriku saat dia memintaku untuk berjanji agar selalu
mencintai dia, begitu juga sebaliknya. “Ingat, raga boleh jarak tetapi hati harus selalu dekat.” Sebagai
tanda setuju, dia mengecup keningku di ujung malam bulan september.
Sih nana membiarkan aku menyandarkan kepala di bahu kirinya sambil berkata: “dari tadi aku terus
memperhatikanmu saat engkau bernafas. Setiap teriakan dan hembus nafasmu juga desahan
nafasmu membuat aku ingin kembali pada masa lalu di ujung malam itu,” katanya sambil menoleh
ke arahku dengan tatapan manja. Dia suka bercanda, kadang aku geli dia begitu pandai membuatku
tersipu malu. Tetapi untuk kali ini nadanya terdengar serius. Aku pun terdiam. Pikiranku
menerawang jauh pada awan-awan yang separuhnya telah menjadi jingga dan pada hamparan laut
yang luas itu.
Beberapa saat kami terdiam, tanpa kata. Yang terdengar hanyalah suara gelombang serta desahan
nafasku sendiri dan sih nana. Beberapa menit kemudian sih nana melanjutkan lagi pembicaraannya.
“Hei... Semenjak engkau pergi ke Waelengga aku selalu merindukan janji yang pernah kita utarakan
bersama. Tiap senja dan malam sebelum tidur, namamu selalu menjadi hal yang selalu membubung
dalam doa dan puisiku. Tak banyak yang aku minta pada Tuhan. Aku selalu berdoa supaya Tuhan
melindungi engkau dan cinta kita. Aku minta pada-Nya agar kita dapat dipertemukan lagi sebelum
menatap senja yang terakhir kalinya.” Kemudian dia terdiam. Beberapa saat kemudian aku
merasakan ada sesuatu yang membasahi pipiku, aku menangis,. Aku di lemahkan oleh cinta yang
begitu kuat.Air mata bening itu membasahi pipiku terus menerus, meresap ke dalam pori-poriku dan
mengalir dengan dinginnya di sekujur tubuhku. Aku menoleh ke arahnya dan kulihat air matanya
juga mengalir bak anak sungai pada lesung pipinya dan jatuh membasahi pasir.
*****
“Kamu jahat! Kamu jahat! Mengapa kepergianmu kala itu seolah-olah membawa semua cinta yang
pernah kita utarakan? Kamu tidak mengirim pesan apa pun. Kamu tidak memberi kabar sedikit pun
tentang hari-harimu di sana. Sampai-sampai aku terkadang merasa kecewa dengan janji waktu itu.
Aku benci pada janji itu. Kamu....”. Kata-katanya terhenti. Air mataku semakin berjatuhan. Suasana
menjadi kaku. Hari suda mulai malam. Aku kehabisan kata. “Senja, cepatlah berlalu karena aku tak
kuat membiarkan sir mata pada pertemuan orang yang kucintai,” gumamku dalam hati.
Kini tatapannya tertuju pada hamparan laut yang luas itu. Mangkinkah ada sesuatu yang dia
harapkan di masa depan? Ataukah hanya sebatas tatapan kosong? antahlah. Betapa bahagianya laut
yang menjadi tujuan akhir dari semua muara kasih dan mata yang memandang. Laut memberikan
rasa pada setiap kasih yang tawar. Dia menoleh ke arahku dan kami pun saling berpapasan dengan
jarak setipis kertas. Kemudian aku berinisiatif memulai pembicaraan. Yudas, aku..” belum sempat
aku menyelesaikan pembicaraan, tiba-tiba dia menginterupsi sambil memecah kesunyian senja itu:
“Tidak! “Cukup aku yang mencintaimu.” Dia meremas tangan kiriku seakan mau mencurahkan seluru
isi hatinya. Kali ini dia mendaratkan kecupannya di pipi kiriku beserta seberkas senyuman yang
tersimpan rapi di ujung bibirnya. Kecupan itu seakan tak mau lepas. Tubuhku menjadi kaku. Jantung
berdenyut tak karuan. Cepat, namun juga nikmat, aku menyadari lelaki keras kepala ini masih
dengan perasaan yang sama.Kemudian aku berdiri menghadap laut dan dia juga ikut berdiri di sampingku. Dia meraih tangan
kiriku dan berkata lagi dengan intonasi yang lembut: “ sudahlah. Cukup aku saja yang mencintaimu.
Kembalilah ke duniamu dan bawalah semua kenangan ini dalam setiap doamu.”
Aku mengarahkan pandangku ke matanya. Secara refleks tangan kananku meraih tubuhnya dan
merangkulnya dalam pelukan kasih. Namun, belum sempat tanganku menyentuhnya tiba-tiba
terdengar suara seorang laki-laki dari belakang dengan kata-kata yang mirip dengan kutipan di Kitab
Suci tepatnya Kidung Agung: “nak, pulanglah. Hari hampir gelap. Sebentar lagi angin senja
berhembus dan bayang-bayang berlalu.” Ah, ternyata aku ketiduran. Aku pun terbangun dari tidurku
dan mimpi yang indah itu. Aku menoleh ke sumber suara. Ternyata itu dia si pak veri penjaga pantai.
Dan aku baru tahu bahwa Yudas yang aku cintai sudah dalam imajinasi yang berharap jadi
kenyataan.
Sambil menatap laut yang remang-remang, dalam hati aku berkata: “Yudas, maafkan aku. Satu
minggu ketika tiba di Waelengga waktu itu, aku mengalami kecelakaan. Handphone baruku rusak
parah. Aku berada di rumah sakit selama tiga bulan. Benturan di kepalaku membuat aku sempat
mengalami amnesia. Aku berusaha mengingat namamu namun itu terasa sulit bagiku. Hanya
wajahmu saja yang selalu aku ingat saat itu. Setelah pulih, aku melanjutkan kehidupanku dengan
membiarkan cintamu menyanyi dalam laguku .ini adalah waktu liburanku. Percayalah. Doa suciku
dari balik tembok kehampaan ini akan selalu menyertaimu di mana pun kau berada” Aku pun
beranjak meninggalkan senja yang bisu sambil membawa gitar dan buku puisiku.
Siapakah dia???
BalasHapusHanya halusinasi semata🤣
BalasHapusApa pernah terjadi kehidupanmu walaupuj sbnrnya itu hnya mmppi?
BalasHapusMimpi itu kenyataan dalam hayalan semata
HapusSiapa dia?
BalasHapusAhh s Nana Pemikat Hati😄
BalasHapusHehehehe
Hapus